Sebanyak Empat Kabupaten Di Sumatera Utara Dinyatakan Endemis Rabies


Sebanyakempatkabupaten di Sumatera Utara dinyatakanendemis rabies.Empatkabupaten yang dimaksud, yaituNias Selatan, Tapanuli Utara, HumbangHasundutan, danSimalungun.

“Endemisituartinyadaerahtersebutseringadakasus rabies dengankorbanmeninggal, tidakberartitiaptahun,” kata Penanggungjawab Program Rabies DinkesSumutAfriani di Medan, Senin 28 Agustus 2017.

Afrianimenyebutkan, pada 2017 di Nias Selatan ada 76 kasusgigitananjingdandua orang meninggalakibat rabies. Di Tapanuli Utara, ada 230 kasusgigitananjingdandua orang di antaranyameninggal.

Sedangkan, di Simalungun, kasusgigitananjinglebihtinggidibandingdaerahlainnya, yaitu 574 kasusdanseorangmeninggal. “Di Humbahas, tahuniniada 201 kasusgigitananjing. Hinggakini, belumada yang meninggalakibat rabies.Hanyasaja, di Humbahasdari 2009 hingga 2016 sudah 10 orang meninggalakibat rabies. Terakhir, pada 2016 adadua orang meninggal.Itusebabnyadaerahinitermasukendemis,” jelasnya.

MenurutAfriani, rabies bisaditularkananjing, kucing, dankera yang telahterjangkit virus Lyssaviruses. Tapi, di Sumut, sekitar 95% virus iniditularkanolehanjing.

Seseorangdapatterjangkit rabies jika air liurdarihewanmengidap rabies masukketubuhmelaluigigitan.Bahkan, seseorangbisaterjangkit rabies karenaluka di tubuhnyaterjilatolehhewan yang terinfeksi.

“Jikadigigithewan yang berpotensimenularkan rabies, yang perludilakukanpertama kali adalahmencucilukagigitandengansabundanbasuhdengan air bersih yang mengalir.Inibisamenghilangkan virus hingga 85 persen.Kemudian, bersihkanlukadenganmenggunakanantiseptikataualkoholdansegerakepuskesmasuntukdiperiksalebihlanjutdandiberivaksin,” terangnya.

Afrianimenjelaskan, waktu yang dibutuhkan virus rabies untukberinkubasisangatbervariasi.Biasanyaantaratigaminggusampaidelapanminggu, bahkanada yang sampaiduatahun.

Padakasus yang pernahterjadi di Sumut, inkubasi virus hanyadalamwaktusatuminggusetelahdigigitlalumunculgejala rabies.”Inkubasi virus jugatergantunglokasigigitannya yang beresikotinggi, seperti di bahukeatas, ujung-ujungjari, dankelamin.Jikasudahmenunjukkangejala rabies, makahampirseringdiakhiridengankematian.Kalaugejalasudahmuncul, makatidakbisadiberivaksinlagi.Vaksinsifatnyahanyapencegahan, bukanmenyembuhkan,” beberAfriani.

Afrianimengaku, program bebas rabies di 2020 agaksulittercapaijikatidakdiikutikeseriusandariberbagaipihak.Karenaitu, DinkesSumutmengharapkanperanmasing-masingkabupaten/kota agar lebihpedulidenganpencegahan rabies.

Selainitu, DinasPeternakanjugadimintaikutberpartisipasidenganmelakukanvaksinasipopulasihewan.”KalauDinasPeternakanbisamemvaksinhewan, otomatistidakada virus yang bisaditularkankemanusia.Kalauhewannyasehatsemua, tentutidakadamanusia yang tertularakibat virus. Kita jugaberharapkabupaten/kotabisamenganggarkandanauntukpencegahan rabies. JadijanganhanyaberharapdariDinkesSumutsaja,” bebernya.

(Sumber : Metrotvnews.com)